Logo Garis Hitam Indonesia
|
Advokasi Publik · 2026 · Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta

Garis Hitam Indonesia Menggagas “PRADNYA: Perempuan Berdaya, Berkarya, dan Berbudaya”

Program intervensi psikososial dan persiapan penempatan kerja hasil kolaborasi dengan Kemnaker RI di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta untuk menjembatani pemulihan diri dengan kesiapan penerimaan masyarakat.

Garis Hitam Indonesia Menggagas “PRADNYA: Perempuan Berdaya, Berkarya, dan Berbudaya”

Garis Hitam Indonesia menggagas tema “Perempuan Berdaya, Berkarya, dan Berbudaya” dalam Program PRADNYA untuk menjembatani pemulihan internal warga binaan dengan kesiapan penerimaan masyarakat.

Rangkaian program diawali dengan kegiatan intervensi psikososial di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta pada Jumat, 19 Juni 2026 melalui berbagai aktivitas interaktif seperti art therapy session, teknik grounding, sesi refleksi diri, serta sosialisasi pemberdayaan untuk warga binaan perempuan (WBP).

Program ini bertujuan menciptakan ruang aman, membangun empati, dan memberikan dukungan emosional bagi perempuan warga binaan. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta berumur 31-59 tahun, dengan masa bebas tahanan kurun waktu 6 bulan.

Merupakan hasil kolaborasi antara Garis Hitam Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan RI, dan Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta, PRADNYA diharapkan bisa menghadirkan pendekatan psikososial sekaligus memfasilitasi penempatan kerja bagi perempuan warga binaan setelah bebas.

PRADNYA menghadirkan empat narasumber dari berbagai bidang, yaitu Uut Hanafi Rochman, SST., Sp.P.S.B. sebagai instruktur psikososial, Anggun Sintana, S.E., M.M. sebagai asesor SIAPkerja, Chen Wu sebagai praktisi kesehatan mental dan art therapy, serta Cokorda Istri Dewi sebagai praktisi teknologi berbasis kesadaran dan Senior Advisor United in Diversity.

Keberagaman latar belakang para narasumber memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam mendukung proses reintegrasi sosial para peserta. Pelaksanaan program ini juga didukung oleh KINERA, Anindhaloka, dan United in Diversity sebagai pihak yang memiliki kepedulian pada isu serupa.

Sinergi antara lembaga pemerintah, organisasi sosial, tenaga profesional, dan pihak pendukung acara ini menjadi bagian penting dalam menciptakan program yang tidak hanya berfokus pada pembinaan, tetapi juga mempersiapkan peserta untuk menghadapi kehidupan dan peluang setelah masa pembinaan.

Garis Hitam Indonesia berharap dengan adanya kegiatan ini, WBP bisa mengolah pengalaman traumatis, mengelola emosi, serta mengekspresikan perasaan dan pengalaman yang sulit diungkapkan secara verbal. Setelah memberikan ruang aman untuk berbagi dan didengar, kegiatan ini turut memberikan dukungan psikososial yang membantu WBP merasa diterima, dihargai, dan tidak sendirian dalam menghadapi tekanan sosial maupun emosional.

Setelah merasa aman, rangkaian PRADNYA membantu para perempuan menumbuhkan harapan dan tujuan di masa depan, salah satunya melalui pohon harapan diri. WBP didorong untuk mengidentifikasi tujuan hidup dan potensi diri mereka, serta membangun optimisme sebagai bekal nyata dalam menghadapi kehidupan setelah masa pembinaan.