Logo Garis Hitam Indonesia
|
Advokasi Publik · 2026 · Anindhaloka, Jakarta

Garis Hitam Indonesia Memberikan “Ruang Bicara: Hear Her Story” Kepada Warga Binaan Pemasyarakatan

Mini bootcamp luring di Anindhaloka yang menghadirkan edukasi publik, advokasi eksternal, pemutaran film dokumenter, serta sesi Letter of Love demi terciptanya penerimaan sosial yang setara.

Garis Hitam Indonesia Memberikan “Ruang Bicara: Hear Her Story” Kepada Warga Binaan Pemasyarakatan

Berawal dari permasalahan diskriminasi dan stigma sosial yang masih dialami oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Garis Hitam Indonesia hadir sebagai penyelenggara kegiatan "Ruang Bicara: Hear Her Story" berbentuk mini bootcamp luring di Anindhaloka pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Acara puncak PRADNYA (Perempuan Berdaya, Berkarya, dan Berbudaya) ini berfungsi sebagai gerakan edukasi publik dan advokasi eksternal melalui pemutaran film dokumenter, talkshow, serta FGD. Sebagai jembatan solidaritas, dihadirkan pula sesi "Letter of Love" agar publik dan warga binaan dapat saling mendukung demi terciptanya penerimaan sosial yang setara.

Melalui pemutaran dokumenter, talkshow, dan diskusi, peserta diajak untuk melihat perempuan warga binaan tidak semata-mata berdasarkan kesalahan atau status hukumnya, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan hak untuk memperoleh kesempatan kedua.

Peserta kegiatan berjumlah 50 orang, yang terdiri atas masyarakat umum, mahasiswa, dan community partner. Kegiatan ini berhasil menciptakan ruang bagi para peserta untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, pertanyaan, serta refleksi mengenai isu perempuan tanpa menghakimi pihak yang memiliki pengalaman berbeda.

Acara Ruang Bicara: Hear Her Story menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang, yaitu Erni Kurniati, S.Pd., M.A. sebagai Program Specialist & Researcher, Muh Rifai Sahida selaku Founder Garis Hitam Indonesia, Dr. Hastin Trustasari, A.Ks. M.Si sebagai Dosen S1 Kesejahteraan Sosial Universitas Binawan, serta Chen Wu sebagai Mental Health Therapist & Community Mental Health Practitioner. Kegiatan ini juga didukung oleh Anindhaloka, Klarens, Wall Street English Indonesia, serta menggandeng Tebar Baik dan YOT (Young On Top) sebagai Community Partner.

Melalui wadah yang safe and inclusive, semua orang bisa saling dengar, berdiskusi, dan berbagi perspektif tanpa rasa takut bakal di-judge. Ruang aman ini hadir buat mematahkan stigma sosial yang membendung langkah perempuan warga binaan. Karena pada akhirnya, pemberdayaan yang berkelanjutan cuma bisa terwujud kalau kita mau belajar berempati, menjunjung hak asasi, dan merangkul mereka kembali ke masyarakat dengan lebih humanis.

Hear Her Story juga mendorong audiens untuk lebih kritis terhadap stereotip yang melekat pada perempuan mantan warga binaan. Pendekatan yang digunakan menekankan perspektif responsif gender, empatik, serta berorientasi pada pemulihan (restorative approach) ketimbang hukuman sosial yang berlanjut.

Melalui kegiatan ini, Garis Hitam Indonesia berharap dapat terus mendorong terciptanya perspektif yang lebih humanis, inklusif, dan berlandaskan kesadaran akan hak asasi manusia. Sehingga, upaya pemberdayaan dan pengurangan stigma terhadap perempuan warga binaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Tujuan jangka panjang dari gerakan ini adalah membangun kesadaran berbasis Hak Asasi Manusia (HAM). Diharapkan, upaya pemberdayaan dan pengurangan stigma terhadap perempuan warga binaan tidak berhenti sebagai seremonial semata, melainkan menjadi gerakan sosial yang berdampak secara berkesinambungan.

Garis Hitam Indonesia Memberikan “Ruang Bicara: Hear Her Story” Kepada Warga Binaan Pemasyarakatan — Garis Hitam Indonesia