Dari Balik Jeruji Mamuju Menuju Panggung Kesetaraan.
“Garis hitam melambangkan masa lalu kelam yang bukan akhir dari segalanya, melainkan pijakan untuk menulis kisah baru.”
Garis Hitam Project lahir dari kepedulian terhadap nasib perempuan yang menjadi warga binaan di Lapas Perempuan Kelas III Mamuju, Sulawesi Barat.
Berawal ketika Muh. Rifai Sahida diundang untuk mengisi kegiatan bertema lingkungan di lapas tersebut. Dari kunjungan itu, ia melihat secara langsung kenyataan hidup para narapidana perempuan kisah tentang kehilangan, penyesalan, dan semangat untuk memulai kembali kehidupan.

Sepulang dari kegiatan itu, Rifai berbagi cerita kepada sahabat-sahabatnya: Achmad Nur, Ulfa Purnamasari, dan Muh. Arifsan. Mereka berdiskusi panjang, lalu menyadari bahwa banyak perempuan di balik jeruji besi sebenarnya memiliki potensi besar, hanya saja tidak mendapat kesempatan untuk berkembang. Dari obrolan sederhana itu, muncul gagasan untuk mendirikan sebuah inisiatif yang mampu membuka “peluang kedua” bagi mereka.
Pada tahun 2019, ide tersebut diwujudkan menjadi sebuah komunitas bernama Garis Hitam Project nama yang melambangkan masa lalu kelam (garis hitam) yang bukan akhir dari segalanya, melainkan pijakan untuk menulis kisah baru.
Momentum penting terjadi pada 15 Februari 2020, saat Garis Hitam Project resmi memperkenalkan diri kepada publik melalui acara Festival Inklusi di Mamuju. Acara itu menjadi titik awal lahirnya komunitas yang berfokus pada pemberdayaan warga binaan dan mantan warga binaan perempuan.
Mulai Berproses dan Berkarya
Garis Hitam Project aktif menjalankan berbagai program pelatihan keterampilan vokasional di dalam lapas, seperti menjahit, membuat kue, anyaman, serta produk kerajinan lokal.
Setelah bebas, para alumni juga didampingi untuk membangun usaha kecil agar bisa mandiri secara ekonomi dan diterima kembali di masyarakat.

Berlandaskan semangat inklusivitas, Garis Hitam Project menjadi komunitas pertama di Sulawesi Barat dan di Indonesia yang fokus pada pemberdayaan narapidana dan mantan narapidana perempuan di luar sektor publik.
Perjalanan Terus Berlanjut
Selama perjalanannya, GHP terus mengembangkan program sosial dan kemitraan lintas sektor: bekerja sama dengan Lapas Perempuan Kelas III Mamuju, pemerintah daerah, lembaga swasta, dan organisasi nasional.
Melalui konsistensinya, GHP juga meraih pengakuan publik, termasuk penghargaan Satu Indonesia Award 2021 di bidang kewirausahaan dari PT Astra International Tbk. Apresiasi bergengsi ini diberikan atas dedikasi Garis Hitam Project dalam menghadirkan ekosistem pembinaan vokasi dan kemandirian usaha sosial bagi warga binaan perempuan.
“Kini, Garis Hitam Project terus tumbuh menjadi wadah belajar, berdaya, dan berkarya bagi perempuan yang ingin bangkit dari masa lalu karena bagi kami, setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup dengan lebih bermartabat.”
Linimasa Garis Hitam
Garis Hitam Project lahir
Garis Hitam Project lahir dari kepedulian terhadap nasib perempuan warga binaan di Lapas Perempuan Kelas III Mamuju.
Festival Inklusi Pertama
Pada 15 Februari 2020, resmi memperkenalkan diri kepada publik melalui Festival Inklusi di Mamuju sebagai tonggak kesetaraan.
Festival Kesetaraan
Festival Kesetaraan berkembang konsisten selama 5 tahun menjadi ruang dialog, advokasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Tumbuh & Berdaya
Terus belajar, berdaya, dan berkarya bersama perempuan warga binaan dan pasca-bina untuk hidup lebih bermartabat.

